UANG ADALAH KOTORAN/TAHI IBLIS.

Asal-usul dan makna spiritual dari ungkapan "uang adalah kotoran Iblis" (Pecunia est stercus diaboli) menurut Santo Basilius Agung, Santo Fransiskus dari Assisi, dan Paus Fransiskus sebagai peringatan agar uang tidak dijadikan berhala yang menguasai manusia.

UANG ADALAH KOTORAN/TAHI IBLIS.

Dari Santo Basilius Agung, Santo Fransiskus dari Assisi, sampai Paus Fransiskus

Ada sebuah ungkapan yang terdengar kasar, bahkan mengejutkan:

Pecunia est stercus diaboli.
“Uang adalah kotoran/tahi Iblis.”

Mengapa uang, sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hari kita perlukan, disebut kotoran/tahi Iblis?

Ungkapan ini mempunyai sejarah panjang dalam tradisi Kristiani. Paus Fransiskus pada 28 Februari 2015, ketika berbicara kepada para anggota Konfederasi Koperasi Italia, secara eksplisit mengatakan bahwa Santo Basilius dari Kaisarea, Bapa Gereja abad ke-4, mengatakan bahwa “uang adalah kotoran/tahi Iblis”, dan bahwa ungkapan itu kemudian diambil kembali oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Paus Fransiskus lalu mengulanginya sendiri: “Sekarang Paus juga mengulanginya: uang adalah kotoran Iblis!”

Namun, ungkapan ini perlu dipahami dengan tepat. Bukan berarti uang pada dirinya sendiri jahat. Yang dikritik adalah uang yang telah berubah menjadi kekuasaan atas manusia uang yang menjadi tujuan hidup, berhala, sumber ketamakan, korupsi, eksploitasi, dan ketidakadilan.

1. Santo Basilius Agung: uang yang ditimbun adalah milik orang yang membutuhkan

Kita mulai dengan Santo Basilius Agung (±329/330–379), uskup Kaisarea.

Dalam homilinya atas perumpamaan orang kaya yang berkata, “Aku akan merombak lumbung-lumbungku dan mendirikan yang lebih besar” (Luk 12:18), Basilius mengecam orang yang menimbun kekayaan sementara orang lain berkekurangan.

Ia bertanya: At tu nonne spoliator es, quae dispensanda suscepisti, propria reputando? “Bukankah engkau seorang perampas, karena menganggap sebagai milikmu sendiri apa yang sebenarnya dipercayakan kepadamu untuk dibagikan?”

Kemudian ia memberikan gambaran yang sangat tajam: Est panis famelici quem tu tenes, nudi tunica quam in conclavi conservas, discalceati calceus qui penes te marcescit, indigentis argentum quod possides inhumatum.

“Roti yang kautahan adalah milik orang lapar; pakaian yang kausimpan adalah milik orang telanjang; sepatu yang membusuk karena tidak digunakan adalah milik orang yang tidak beralas kaki; dan uang yang kaupendam adalah milik orang yang membutuhkan.”

Dan Basilius menutupnya dengan kalimat yang sangat keras: Quocirca tot iniuriaris quot dare valeres. “Karena itu, sebanyak orang yang sebenarnya dapat kautolong, sebanyak itu pula ketidakadilan yang kaulakukan.”

Jadi, bagi Basilius, persoalan kekayaan bukan sekadar berapa banyak yang kita miliki, melainkan apa yang kita lakukan dengan apa yang kita miliki.

Kekayaan adalah tanggung jawab.

2. Dari Basilius ke Santo Fransiskus dari Assisi

Delapan abad kemudian, semangat kritik terhadap kekayaan dan ketamakan itu muncul dengan sangat kuat dalam diri Santo Fransiskus dari Assisi (1181/82–1226).

Fransiskus mengalami pertobatan radikal. Ia meninggalkan kehidupan nyaman sebagai anak seorang pedagang kaya dan memilih hidup dalam kemiskinan, mengikuti Kristus yang miskin.

Bagi Fransiskus, uang mempunyai daya yang sangat berbahaya karena dapat dengan cepat menguasai hati manusia. Dalam Vita Secunda karya Thomas dari Celano, diceritakan bahwa Fransiskus “sangat membenci uang” dan sejak awal pertobatannya mengajarkan para pengikutnya untuk menjauhinya seperti menjauhi Iblis. Bahkan ada sebuah kisah yang sangat konkret: seorang saudara pernah menyentuh uang dengan tangannya. Fransiskus memberikan teguran keras dan menyuruhnya mengambil uang itu dengan mulut, lalu meletakkannya di atas kotoran keledai sebagai tanda bahwa uang harus dipandang tidak lebih berharga daripada kotoran.

Kisah itu sangat kuat secara simbolis.

Fransiskus seakan-akan berkata: Jangan tertipu oleh kilauan uang.

  1. Apa yang kelihatan berharga di mata manusia belum tentu berharga di hadapan Allah.
  2. Apa yang membuat manusia merasa berkuasa dapat justru memperbudaknya.
  3. Apa yang dianggap sebagai kekayaan dapat berubah menjadi sampah ketika membuat manusia kehilangan kebebasan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap orang miskin.

Karena itu, ketika tradisi kemudian merumuskan sikap Fransiskus dengan ungkapan: Pecunia est stercus diaboli “Uang adalah kotoran/tahi Iblis,” yang dimaksud bukanlah teori ekonomi bahwa uang itu jahat. Yang dimaksud adalah bahaya spiritual uang ketika manusia mulai menyembahnya.

3. Dari “uang” kepada “Mamon”

Di sinilah kita menemukan hubungan yang sangat kuat dengan Injil.

Yesus berkata: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
(Mat 6:24). Mamon bukan sekadar uang.

Mamon adalah kekayaan yang telah menjadi tuan. Pada mulanya manusia menggunakan uang. Tetapi kemudian uang dapat menggunakan manusia. Pada mulanya manusia berkata: “Saya mempunyai uang.”

Tetapi akhirnya uang seakan-akan berkata: “Engkau adalah milikku.”

Inilah perubahan yang berbahaya. Uang yang semula hanya alat berubah menjadi tujuan.

Kekayaan yang semula dimaksudkan untuk mendukung kehidupan berubah menjadi ukuran keberhasilan hidup.

Keuntungan menjadi lebih penting daripada manusia. Pertumbuhan ekonomi menjadi lebih penting daripada keadilan. Jabatan menjadi sarana memperkaya diri. Politik menjadi transaksi. Korupsi menjadi jalan memperoleh kekayaan. Dan manusia yang miskin dianggap hanya sebagai angka dalam statistik. Pada saat itulah uang telah menjadi berhala.

4. Paus Fransiskus menghidupkan kembali ungkapan itu

Ungkapan kuno tersebut kembali menjadi sangat terkenal pada masa Paus Fransiskus. ada 28 Februari 2015, dalam pertemuannya dengan Confcooperative di Vatikan, Paus Fransiskus berbicara mengenai ekonomi, koperasi, pekerjaan, modal, dan pelayanan kepada manusia.

Ia mengatakan bahwa tidak mudah berbicara mengenai uang. Lalu ia menyebut Basilius: “Diceva Basilio di Cesarea, Padre della Chiesa del IV secolo, ripreso poi da san Francesco d’Assisi, che ‘il denaro è lo sterco del diavolo’.” Artinya: “Basilius dari Kaisarea, Bapa Gereja abad ke-4, yang kemudian diambil kembali oleh Santo Fransiskus dari Assisi, mengatakan bahwa ‘uang adalah kotoran Iblis’.”

Kemudian Fransiskus berkata: “Lo ripete ora anche il Papa: ‘il denaro è lo sterco del diavolo’!” - “Sekarang Paus juga mengulanginya: ‘uang adalah kotoran/tahi Iblis!’”

Tetapi Paus Fransiskus tidak berhenti pada ungkapan yang provokatif itu. Ia langsung memberikan penjelasan yang sangat penting: “Quando il denaro diventa un idolo, comanda le scelte dell’uomo.” - “Ketika uang menjadi berhala, uang menguasai pilihan-pilihan manusia.” Dan akibatnya: “E allora rovina l’uomo e lo condanna. Lo rende un servo.” - “Maka uang itu merusak manusia dan menghukumnya. Uang menjadikan manusia seorang hamba.”. Inilah kunci seluruh ungkapan tersebut.

5. Tetapi Paus Fransiskus tidak mengajarkan bahwa uang harus dibuang

Ini penting. Setelah mengatakan bahwa uang adalah “kotoran Iblis”, Paus Fransiskus justru berkata kepada para pelaku koperasi: “Per fare tutte queste cose ci vuole denaro!” - “Untuk melakukan semua ini diperlukan uang!” Jadi Paus tidak menolak uang. Yang ia tolak adalah dominasi uang atas manusia. Ia bahkan mengatakan bahwa uang “a servizio della vita” uang yang ditempatkan untuk melayani kehidupan dapat dikelola dengan baik. Dalam koperasi yang benar, bukan modal yang menguasai manusia, melainkan manusia yang menguasai modal.

Inilah perbedaan yang sangat penting: Bukan manusia untuk uang, tetapi uang untuk manusia. Bukan: Manusia mengabdi kepada modal. Melainkan: Modal melayani manusia dan kesejahteraan bersama.

6. Maka “kotoran Iblis” bukanlah uangnya

Di sini kita dapat memahami seluruh sejarah ungkapan tersebut. Basilius melihat roti yang ditimbun, pakaian yang disimpan, dan uang yang dipendam sementara orang lain membutuhkan.

Fransiskus melihat bahaya uang terhadap kehidupan rohani orang yang memilih kemiskinan Injili. Paus Fransiskus melihat bahaya uang ketika sistem ekonomi menjadikan modal lebih penting daripada manusia. Ketiganya bertemu pada satu keprihatinan: Jangan biarkan kekayaan menjadi tuan atas manusia. Maka uang bukan jahat karena uang itu sendiri.

  1. Yang berbahaya adalah ketamakan manusia terhadap uang.
  2. Yang berbahaya adalah uang yang diperoleh dengan ketidakadilan.
  3. Yang berbahaya adalah uang yang digunakan untuk membeli kekuasaan.
  4. Yang berbahaya adalah kekuasaan yang digunakan untuk menghasilkan lebih banyak uang.
  5. Dan yang paling berbahaya adalah ketika manusia akhirnya mengukur segala sesuatu dengan uang.

7. Relevansinya bagi Indonesia

Di sinilah ungkapan tersebut menjadi sangat aktual.

  1. Apa yang terjadi ketika jabatan politik dipandang sebagai investasi?
  2. Apa yang terjadi ketika seseorang menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi?
  3. Apa yang terjadi ketika korupsi dianggap sekadar “uang pelicin”?
  4. Apa yang terjadi ketika sumber daya alam diperlakukan semata-mata sebagai sumber keuntungan?
  5. Apa yang terjadi ketika masyarakat kecil dikorbankan demi proyek yang menguntungkan segelintir orang?
  6. Apa yang terjadi ketika pendidikan, kesehatan, tanah, air, bahkan kehidupan manusia dinilai terutama berdasarkan keuntungan ekonominya?

Di situlah kita melihat wajah Mamon. Bukan uang yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika uang menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Ketika uang dapat membeli keputusan, hukum, jabatan, pengaruh, bahkan martabat manusia, uang telah menjadi kekuasaan yang berbahaya.

8. Basilius memberikan pertanyaan yang lebih tajam

Karena itu, pertanyaan seorang Kristiani bukan hanya: “Berapa banyak uang yang saya miliki?” Melainkan:

  1. “Dari mana uang itu datang?”
  2. “Siapa yang bekerja untuk menghasilkan kekayaan itu?”
  3. “Apakah ada orang yang dirugikan?”
  4. “Siapa yang menikmati hasilnya?”
  5. “Siapa yang menanggung akibatnya?”

Dan akhirnya: “Apakah uang yang saya miliki menjadi sarana kehidupan bagi sesama, atau justru menjadi sumber penderitaan bagi mereka?”

Pertanyaan Basilius tetap menggema: Indigentis argentum quod possides inhumatum. - “Uang yang kaupendam adalah milik orang yang membutuhkan.”

9. Uang: berkat atau kotoran?

Maka kita tidak perlu menyimpulkan: “Uang itu jahat.” Kesimpulan itu terlalu sederhana.

  1. Uang dapat menjadi berkat.
  2. Uang dapat menjadi makanan bagi yang lapar.
  3. Uang dapat menjadi obat bagi yang sakit.
  4. Uang dapat menjadi biaya pendidikan bagi anak miskin.
  5. Uang dapat menjadi modal usaha bagi keluarga kecil.
  6. Uang dapat menciptakan pekerjaan.
  7. Uang dapat membiayai pelayanan sosial.

Tetapi uang juga dapat menjadi “kotoran Iblis” apabila ia menjadi berhala. Uang yang diperoleh dengan kejujuran dan digunakan untuk kehidupan dapat menjadi sarana kebaikan.

Uang yang diperoleh dengan korupsi dan digunakan untuk memperbesar kekuasaan dapat menjadi sumber kehancuran. Karena itu, persoalannya bukan hanya berapa banyak uang yang kita punya, melainkan:

  1. Siapa yang menguasai siapa?
  2. Apakah kita menguasai uang?
  3. Ataukah uang menguasai kita?

10. Sebuah pemeriksaan batin

Ungkapan “Uang adalah kotoran/tahi Iblis” akhirnya dapat menjadi sebuah pemeriksaan batin yang sangat sederhana:

  1. Apakah uang membuat saya semakin bebas atau semakin diperbudak?
  2. Apakah uang membuat saya semakin murah hati atau semakin tamak?
  3. Apakah uang membuat saya semakin dekat dengan sesama atau semakin menjauh dari mereka?
  4. Apakah uang saya menghasilkan kehidupan atau penderitaan?
  5. Apakah saya menggunakan uang untuk melayani manusia, atau menggunakan manusia untuk menghasilkan uang?

Dan pertanyaan yang paling penting: Apakah saya memiliki uang, atau uang telah memiliki saya? Santo Basilius mengingatkan bahwa uang yang ditimbun dapat menjadi milik orang yang membutuhkan.  Santo Fransiskus mengingatkan bahwa uang dapat memperbudak orang yang mengejarnya.

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa ketika uang menjadi berhala, uang mulai menentukan pilihan manusia. Maka ungkapan ini bukanlah seruan untuk membenci uang.

Ia adalah peringatan agar kita tidak menyembah uang. Sebab uang yang menjadi alat untuk melayani kehidupan adalah sarana. Uang yang menjadi tujuan hidup adalah berhala.

Dan ketika berhala itu menguasai hati manusia, kita memahami mengapa tradisi Gereja menggunakan ungkapan yang begitu keras: “Uang adalah kotoran/tahi Iblis.”

Bukan karena uang tidak berguna. Tetapi karena uang yang menjadi tuan akan menjadikan manusia hamba. Dan pertanyaan akhirnya tetap sama: Apakah uang berada di tangan kita atau kita berada di tangan uang?

 

(Ignatius Ismartono - Sahabat Insan, Awal September 2026)